IYE! Indonesia Young Entrepreneurship

Indonesia Young Entrepreneurship adalah ajang komunikasi bagi kawula muda Indonesia yang berjiwa Entrepreneur
baik yang sudah memulai bisnisnya, maupun yang sedang bersiap2 menjadi pengusaha

visi: sebanyak2nya pengusaha muda yg prima & etis di Indonesia

Silakan klik http://iye.wiloto.com

Friday, October 06, 2006

10 Prinsip Bisnis Dengan Hati Nurani


Oleh: Eko Jalu Santoso (IYE! active member)

Anda ingin menjadi pengusaha sukses ? Sekarang ini banyak orang yang menginginkan menjadi pengusaha sukses. Kalau dulu menjadi pegawai negeri, menjadi pegawai kantoran dianggap golongan priyayi, sedangkan menjadi pedagang masih dianggap kaum kelas dua, sekarang ini situasinya sudah berubah.

Menjadi pedagang atau pengusaha bukan lagi dianggap sebagai kaum kelas dua, namun sudah menjadi tujuan utama banyak manusia sekarang ini. Maka dewasa ini buku-buku tentang entrepreurship, seminar kewirausahaan, training motivasi entrepeneurship semakin menjamur dan diminiati oleh banyak orang.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa menjalankan usaha sebenarnya bukan sekedar mengejar profit atau keuntungan pribadi semata. Ada makna ibadah yang nilainya lebih tinggi dari sekedar mendapatkan keuntungan berupa uang belaka. Kalau orang menjalankan usaha hanya berorientasi pada keuntungan materi sebesar-besarnya sebagai tujuan utamanya, maka kalaupun usahanya berhasil, belum tentu menjadi berkah bagi dirinya. belum tentu menjadikan kebahagiaan sejati bagi dirinya.

Lalu bagaimana menjalankan bisnis yang dapat menjadi ibadah dan membawa berkah bagi kehidupan kita ?. Jalankanlah usaha atau bisnis berdasarkan hati nurani. Bagaimana prinsip menjalankan usaha berdasarkan hati nurani ? Berikut ini 10 prinsip bisnis yang perlu menjadi pertimbangan dalam mengembangkan usaha Anda :

1. Kawan adalah aset berharga.
Tidak ada usaha yang tidak berhubungan dengan orang lain. Dalam membina hubungan dengan orang lain, letakkanlah nilai persahabatan, nilai pertemanan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekedar meraih keuntungan uang. Dengan menempatkan kawan sebagai aset berharga, maka kita akan menghargai komitmen dan kerjasama dengan siapapun.

2. Kepercayaan adalah modal jangka panjang.
Modal dalam usaha itu dapat dibadi kedalam modal tangible dan modal intangible. Uang, gedung, peralatan, mesin adalah contoh modal tangible. Namun ada modal yang intangible yang jauh lebih berharga untuk usaha jangka panjang kita yakni membina kepercayaan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah kepercayaan dan hanya sekian detik saja untuk menghancurkannya. Maka berusahalah membina kepercayaan baik kepada siapapun.

3. Menjual dengan harga lebih tinggi dari pembelian, bukan harga tertinggi.
Maknanya adalah berbisnis bukan sekedar mengejar keuntungan dengan membeli serendah-rendahnya, kemudian menjual dengan harga tertinggi. Namun berbisnis dan berusaha adalah bagaimana dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya, tanpa mengabaikan kelayakan usaha. Nilai kebahagiaan dan keberhasilan usahanya bukan pada berapa besarnya keuntungan materi, tetapi berapa banyak manfaat yang diberikan.

4. Mendengarkan kata hati.
Dalam melakukan tindakan, mengambil keputusan, belajarlah memisahkan antara pikiran yang dikuasai oleh emosi, ego pribadi, nafsu duniawi dengan pikiran yang dikendalikan hati. Gunakan ketajaman mata hati untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan kata hati bukan berdasarkan emosi atau nafsu duniawi. Karena sesunggunya mendengarkan kata hati merupakan usaha mengenal sifat-sifat kemuliaan Allah yang sudah "built in" dalam hati kita.

5. Bekerja dengan hati.

Mereka yang bekerja dengan hati bukanlah orang yang bersikap baik kepada Anda, namun bersikap kasar terhadap bawahan, pekerja, atau pelayan. Sesungguhnya orang seperti ini bukanlah orang baik yang bekerja dengan hatinya. Karena mereka yang bekerja dengan hati akan selalu bersikap baik kepada siapapun.

6. Kekayaan bukan dinilai dari uang yang dimiliki.
Menjadi kaya bukan sekedar berhubungan dengan memiliki banyak uang. Namun kekayaan yang utama adalah seberapa besar uang yang kita dapatkan dapat digunakan untuk menolong orang lain, untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

7. Berorientasi pada manfaat sebesar-besarnya.
Berbisnis bukan sekedar berorientasi pada profit atau keuntungan materi sebesar-besarnya, tetapi memperoleh keuntungan untuk memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berbisnis adalah ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa nantinya dan kepada sesama manusia lainnya.

8. Fokus pada apa yang diperoleh bukan yang hilang.
Jangan pikirkan kesempatan, peluang atau kegagalan yang sudah lewat atau sudah hilang dari kita. Kalau And akalah tender sebuah proyek, padahal hitung-hitungannya untungnya akan besar sekali, jangan dirisaukan lagi. Hal ini dapat membuat Anda stress, atau berlaku tidak bijaksana. Fokuslah memikirkan pada apa yang Anda peroleh saat ini. Biarkan kesempatan yang hilang berlalu dari Anda, karena akan ada kesempatan baru kalau kita dapat mensyukuri apa yang dimiliki saat ini.

9. Gagal hanyalah sebuah proses.
Gagal bukanlah akhir dari segalanya, tetapi bagian dari proses untuk menghasilkan rencana-rencana baru. Bagian dari proses menuju kesempatan-kesempatan baru, sepanjang kita mau memperbaiki rencana baru. Namun kalau anda gagal merencanakan sesuatu, berarti Anda telah berencana untuk gagal.

10. Akui Kesalahan Dengan rendah Hati.
Kesahalan-kesalahan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan usaha bisa saja terjadi. Ketika Anda menyadari bahwa itu suatu kesalahan keputusan yang Anda ambil, dan merasa bahwa partner Anda atau karyawan Anda yang benar, maka akui dengan rendah hati. Segera lakukan evaluasi untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi.

Eko Jalu Santoso,
IYE! Active Member

Founder MotivasiIndonesia
HP. 0812.9423006
www.ekojalus.com

Wednesday, October 04, 2006

How to Run a Meeting Like Google


By Carmine Gallo

No one wastes time searching for a purpose at Marissa Mayer's meetings—even five-minute gatherings must have a clear agenda.

Meetings get a bad rap in business today and for good reason—very little gets accomplished in them. I can recall a Dilbert cartoon in which several people sat around a table while the meeting organizer said, "There is no specific agenda for this meeting. As usual, we'll just make unrelated emotional statements about things which bother us…" That pretty much sums it up.

The majority of meetings are unstructured, uninspiring, and unproductive. But they don't have to be that way.When I decided to write a column about running effective meetings, I turned to a leader who holds more than anyone I know and who actually credits her meeting structure for leading to some of the most innovative advances in technology today: Marissa Mayer, Google's vice-president of search products (see BusinessWeek.com, 6/19/06, "Marissa Mayer: The Talent Scout").

Mayer holds an average of 70 meetings a week and serves as the last stop before engineers and project managers get the opportunity to pitch their ideas to Google's co-founders, Sergey Brin and Larry Page. Eight teams consisting of directors, managers, and engineers—all at various stages of product development—answer to Mayer.In a shop like Google, much of the work takes place in meetings, and her goal is to make sure teams have a firm mandate, strategic direction, and actionable information, while making participants feel motivated and respected. Mayer's six keys to running successful meetings follow:

1. Set a firm agenda.

Mayer requests a meeting agenda ahead of time that outlines what the participants want to discuss and the best way of using the allotted time. Agendas need to have flexibility, of course, but Mayer finds that agendas act as tools that force individuals to think about what they want to accomplish in meetings. It helps all those involved to focus on what they are really trying to achieve and how best to reach that goal.

2. Assign a note-taker.

A Google meeting features a lot of displays. On one wall, a projector displays the presentation, while right next to it, another projector shows the transcription of the meeting. (Yet another displays a 4-foot image of a ticking stopwatch.) Google executives are big believers in capturing an official set of notes, so inaccuracies and inconsistencies can be caught immediately.Those who missed the meetings receive a copy of the notes. When people are trying to remember what decisions were made, in what direction the team is going, and what actions need to be taken, they can simply review the notes.

3. Carve out micro-meetings.

Mayer sets aside large blocks of time that she slices into smaller, self-contained gatherings on a particular subject or project. For example, during her weekly two-hour confab with the co-founders and CEO Eric Schmidt, she sets aside five- to 10-minute segments—or longer, depending on the subject—devoted to such specific areas as weekly reports on how the site is performing, new product launches, etc.

This method offers enough flexibility to modify the agenda just before the meeting, should anything pressing occur. It also instills discipline that keeps the meeting tightly focused. Mayer does the same with members of her teams who might need only five or 10 minutes of her time instead of 30 minutes—the shortest block of time her calendar permits. By setting aside micro-meetings within a larger block of time, she accomplishes more.

Mayer, who has a background in engineering and computer science, jokingly refers to micro-meetings as "reducing latency in the pipeline." That means if she has an employee with an issue that comes up Tuesday, he or she can schedule a 10-minute micro-meeting during Mayer's large time block, instead of waiting for her next 30-minute opening, which might not be available for two weeks.

4. Hold office hours.

Mayer brought this idea from her experience teaching computer science at Stanford, where she first met the two guys who would go on to revolutionize how the world gets its information. Beginning at 4 p.m., for 90 minutes a day, Mayer holds office hours.

Employees add their name to a board outside her office, and she sees them on a first-come, first-serve basis. Sometimes project managers need approval on a marketing campaign; sometimes staffers want a few minutes to pitch a design (see BusinessWeek.com, 6/30/06, "Inside Google's New-Product Process").

Says Mayer: "Many of our most technologically interesting products have shown up during office hours. Google News, Orkut [Google's social networking site], Google Reviews, and Google Desktop all showed up first in office hours." During office hours, Mayer can get through up to 15 meetings, averaging seven minutes per person.

5. Discourage politics, use data.
One of Mayer's "Nine Notions of Innovation" is "Don't politic, use data" (see BusinessWeek.com, 6/19/06, "9 Notions of Innovation").

This idea can and should apply to meetings in organizations in which people feel as though the boss will give the green light to a design created by the person he or she likes the best, showing favoritism for the individual instead of the idea.

Mayer believes this mindset can demoralize employees, so she goes out of her way to make the approval process a science. Google chooses designs on a clearly defined set of metrics and how well they perform against those metrics. Designs are chosen based on merit and evidence, not personal relationships.

Mayer discourages using the phrase "I like" in design meetings, such as "I like the way the screen looks." Instead, she encourages such comments as "The experimentation on the site shows that his design performed 10% better." This works for Google, because it builds a culture driven by customer feedback data, not the internal politics that pervade so many of today's corporations.

6. Stick to the clock.

To add a little pressure to keep meetings focused, Google gatherings often feature a giant timer on the wall, counting down the minutes left for a particular meeting or topic. It's literally a downloadable timer that runs off a computer and is projected 4 feet tall.Imagine how chaotic it must look to outsiders when the wall shows several displays at once—the presentation, transcription, and a mega-timer! And yet, at Google, it makes sense, imposing structure amidst creative chaos. The timer exerts a subtle pressure to keep meetings running on schedule.

Mayer does have one caveat when it comes to the timer—maintain a healthy sense of humor about it. (The timer was counting down to the end of my interview with Mayer—but she turned it into a fun and friendly reminder instead of an abrupt end to our discussion.)Please keep in mind that these meeting techniques work well for Google. They may or may not be appropriate for your place of business. But these six keys should give you some new ideas about how to transform your meetings from a waste of time to time well spent.

---------------------
Gallo is a Pleasanton (Calif.)-based corporate presentation coach and former Emmy Award-winning TV journalist. He's the author of the book 10 Simple Secrets of the World's Greatest Business Communicators. Visit him online at www.carminegallo.com

Sosok Moderator IYE!: Era Soekamto


Untuk mengenal lebih dekat para Moderator IYE! maka, rubrik Sosok Moderator IYE! kali ini menampilkan sedikit cerita ttg salah satu Moderator IYE!, Era Soekamto.

Lulusan sekolah mode Lasalle Singapura. Era M Soekamto, sempat bekerja di pabrik tekstil Tarumatex sebagai perancang. Dan mengajar pada Lassale Jakarta. Era kemudian ikut Indonesia Young Designers Contest dan menjadi juara. Dari situ mereka membentuk “Urban Crew” untuk pasar kaum muda dengan modal usaha yang mereka kumpulkan dari gaji masing-masing.

Kini Era adalah salah seorang desainer sekaligus Direktur Program Indonesia International Fashion Institute (IIFI), yang juga aktif di Ikatan Perancang Muda Indonesia (IPMI), dan juga salah satu Moderator IYE!

Dengan modal konsep dan keberanian, mereka datangi Dupont Lycra untuk menjadi sponsor peragaan tunggal mereka pertama.

Sejak itu “Urban Crew” mulai diperhitungkan dalam peta mode di tanah air. Rancangan mereka pun mulai masuk dunia hiburan. Beberapa grup musik memakai kostum rancangan mereka untuk penampilan panggung dan video klip.

Kini mungkin mereka satu-satunya merek busana karya perancang yang konsisten bergerak di jalur pakaian jadi untuk kaum muda.

Berkali-kali Urban Crew menggelar koleksi tunggal. Mereka menunjukkan kemahiran dalam hal styling busana. Tapi di lain sisi kita jadi semakin hafal dalam membaca pola styling mereka. Formulanya seperti ini : Supaya kelihatan gaya, lilitlah ikat pinggang lebar di atas paduan celana hipster dan blus ketat atau gaun.

Ngomongin soal tren mode memang enggak ada matinya. Dinamis dan mengikuti perkembangan zaman. Tapi, bukan berarti mode baru akan dengan mudahnya menggeser yang lama.

Beberapa trendsetter dunia macam fashion designer ternama di empat penjuru kiblat fesyen (Paris, Milan, New York, dan London) memprediksi tren mode bisa dibilang kembali lagi ke beberapa tahun lalu tanpa harus plek-plekan nyontek.

Kalau ditarik benang merahnya dari pagelaran tren tahunan yang diprediksi para pakar-pakar fesyen, baik di Indonesia maupun di luar sana, merupakan perpaduan dari pengekspresian gaya smart casual yang rileks dengan aksen vintage (antik).


Tren mode lebih menonjolkan siluet badan, baik pada cewek maupun cowok. Tren mode lebih mementingkan kenyamanan tubuh saat bergerak atau melakukan aktivitas. Kreativitas untuk menciptakan warna pada sebuah tren mode juga terasa lebih berani. Semua unsur fesyen diciptakan lebih fun dan playful.

"Prediksi lebih mengarah ke individualisme juga. Di mana setiap remaja akan lebih mengenal kepribadian mereka sendiri sehingga dengan demikian terciptalah suatu gaya yang sangat ekspresif. Semangat optimisme para remaja juga lebih terlihat playful. Otomatis remaja akan lebih smart untuk menentukan what should wear now," ujar Era M Sukamto.Tidak seperti tren mode sebelumnya, Era sempat berujar kalau tren mode sekarang lebih diciptakan oleh si pemakainya, bukan oleh para pembuat baju lagi.

Sebagai pengusaha muda yang cukup punya pengalaman jatuh bangun, Era berbagi pengalamannya di Gathering IYE!, berbisnislah sesuai dengan hobby kita, karean kita perlu passion untuk memperjuangkan bisnis yang kita rintis, kata wanita lajang yang berbibir dan mata sexy ini.

Menurut dara yang baru berpisah dengan rekan bisnisnya ini, bisnis bukan melulu uang, tapi ada nilai sosial yang jauh lebih bernilai dari sekedar uang.

"Dan jangan lupa; Tuhan akan sibuk bekerja untuk kita, saat kita sibuk bekerja untuk orang lain. Tapi Tuhan akan sibuk bekerja untuk orang lain, saat kita sibuk bekerja untuk diri sendiri." katanya sambil tersenyum manis.

Tuesday, October 03, 2006

105 Business Ideas part 2

idea: underwear with pockets


By Ryan P Allis, The Young Entrepreneurship, Part 2

65. Make a ski board rotating wardrobe at ski resorts.
66. flavored straws
67. A grocery store that also had a fitness center
68. a diagonal load dishwasher
69. sushi restaurant
70. Candyland theme park chain
71. web design/advertising company
72. per month CD online company
73. educational software for the visually impaired
74. bringing broadband internet access into developing countries
75. Sonar for blind people
76. voice/data equipment for hospitals
77. drink machine that talks to you.
78. a teddy bear with sensors and small computer inside that would talk to infants/toddlers and encourage good behavior or tell them a bed-time story
79. an online store where you could customize clothing and then have it shipped to you
80. new internet service provider
81. college/cheerleader calendars
82. college/male athlete calendars
83. voice-activated radio/TV
84. voice activated hourse
85. remote control finder
86. voice activated keys
87. hydrogen powered cars
88. easy wrinkle remover
89. never-ending bottle of soda
90. underwear with pockets
91. new clothing line
92. donut store
93. shoe pockets
94. wireless TV headseats
95. haircoloring shampoo
96. desks with build in computers
97. an educational software company that made console games for kids that were actually fun to play
98. New brand of cola
99. Monorail company
100. triangular and circular houses
101. interchangeable shoes
102. internet café
103. pens that never from out of ink
104. new type of fuel
105. hovercars
Now that your creative juices are flowing, I encourage to learn how to evaluate business ideas in ‘How to Evaluate Business Ideas and Opportunities."

105 Business Ideas part 1

idea: underwater restaurant


By Ryan P Allis, The Young Entrepreneurship

Below is a listing of one hundred and five business ideas thought of by middle and high school students. Hopefully this listing will illustrate the principle that business ideas are a dime a dozen and it is always the execution that counts. I encourage you to read "It’s not the Idea, It’s the Execution" after finishing this article as well as "How to Evaluate Business Ideas and Opportunities."

The following ideas were brainstormed by fourteen high school students in a 90 minute period on July 20, 2003.

1. underwater restaurant
2. spa franchise
3. foldable hammock for car trunks
4. high quality light fixtures
5. health bar chain
6. comfy, damage-free ear phones
7. chair with popcorn holder, tray, built-in radio, massager
8. self-cleaning microwave
9. security software to protect against hackers and credit card scams
10. wholesale store without membership card
11. aerobic center for teenagers
12. chair store w/ imported European chocolate
13. restaurants for dogs and cats
14. oxygen tanks so dogs and cats can go diving
15. computer animation company
16. real estate company
17. cosmetics/hair care company
18. bowling alley in Cartagena, Columbia
19. Store that makes custom clothes
20. electronic translator that you put in your ear
21. fashion design company for new designers that need a start
22. iron rod production
23. selling traditional jewelry
24. brail screen that reads computer and translates the text on a computer into 3D brail that the blind could read
25. lumber company
26. text books on computers
27. automatic dog food dispenser
28. remote control lawnmower
29. washer-dryer all in one combo
30. color eye drops
31. mechanical spiders
32. MP3 player watch
33. watch that automatically knows what time zone it’s in
34. butt-wiping toilets
35. better toothpaste
36. virus protection
37. toothbrush with toothpaste in it
38. video phone
39. logo changing shirt
40. solar color changing shirt
41. solar powered sports cars
42. color changing nail polish
43. TV on cell phones
44. personal soda dispenser
45. voice-controlled air conditioning system
46. resort
47. color changing hair bow
48. voice activated elevators
49. phone/tv/radio in a shower
50. sponges with built in soap
51. self-moving furniture
52. multi-colored markets
53. reversible backpacks
54. student tracker system
55. remote to control of your appliances
56. sneakers with comfortable insides
57. auto food/water dispenser for animals for when family is away for a few days
58. vacuum with perfume in it
59. trash can with perfume in it
60. real-looking pony tail that hooks in your hair
61. 3 in 1 paint color can
62. refrigerator that has an alarm for bad food
63. cat food dispenser
64. boats that give a smooth ride


go to part 2

Monday, October 02, 2006

Tantangan Pengusaha Muda: Kecil-kecil Jadi Bos

Gathering IYE! Super Entrepeneur Forum September 2006
dr kiri ke kanan: Rene Canoneo, Charles Saerang, Charles Bonar, Era Soekamto

Tantangan Pengusaha Muda: Kecil-kecil Jadi Bos
wartaekonomi

Ambisi yang meletup-letup, emosi, masalah SDM, dan miskin pengalaman, mewarnai bisnis para pengusaha muda. Perjalanan waktu akhirnya membuat mereka dewasa.

Orang muda kadang membuka usaha baru dengan ambisi yang meletup-letup. "Saat mendirikan perusahaan pertama, kepala saya penuh target. Pokoknya dream must come true," aku Naomi Susan, direktur PT Natural Semesta. Saat itu, kata "pokoknya" menjadi mantra sakti. Pokoknya harus berhasil.

Pokoknya harus deal. Pokoknya harus untung. Namun, ternyata tak semuanya berjalan mulus. Beberapa perusahaan Naomi, seperti klikduit.com, harus kandas. Ia pun terjungkal beberapa kali saat berbisnis properti. Kala gagal untuk pertama kalinya, Naomi merasa dunianya runtuh. "Saya bete banget.

Malu, sedih, mengutuk diri sendiri," kenangnya. Meski banyak pengusaha muda yang tak mampu bertahan, Rhenald Kasali, ketua program Ilmu Manajemen, Pasca Sarjana Universitas Indonesia, tetap salut. Baginya, ada keberanian untuk memulai langkah pertama itu sudah bagus. Tinggal bagaimana mereka mengelola diri dan perusahaannya. Rhenald tak menampik bahwa dalam mengelola usahanya, sebagian pengusaha muda masih diliputi emosi. Menurut dia, tantangan manajerial di perusahaan sedikit banyak dipengaruhi kematangan emosi pemimpinnya. Emosi itu timbul karena ada keinginan untuk membuktikan kemampuan diri.

Eko Hendro Purnomo, dirut PT E Titik Tiga Komando, mengakui kebenaran analisis itu. Saat mulai berbisnis, emosinya lebih menonjol ketimbang aspek manajerial. "Kalau melihat orang yang kerjanya nggak bagus, saya langsung bilang, lu besok keluar aja. Sementara kalau terkesan dengan pekerjaan seseorang, saya bisa saja bilang, besok lu naik pangkat ya," ungkap Eko.

Waktu itu ia belum peduli hak dan kewajiban karyawan yang diberhentikan atau dipromosikan. Beruntung Eko menyadari kekeliruannya. Kini pada tiga perusahaannya ada divisi SDM. "Biar mereka yang mengatur jenjang karier dan masalah penggajian," katanya, sambil tersenyum. Ia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan soal manajemen dari membaca, bergaul, dan bertukar pikiran dengan banyak orang, tak terkecuali para pakar, di samping belajar dari pengalaman.

Jangan Berdasar TrenSaat booming bisnis low cost carrier, PT Adam Sky Connection Airlines (Adam Air) ikut masuk. Kapten perusahaan ini, Adam Adhitya Suherman, 23 tahun, tak memilih warna dominan biru atau putih, tetapi justru oranye dan hijau muda. "Kesannya fresh dan ceria," tutur Adam.

Ia tak takut pilihan warnanya bisa "menggerogoti" wibawa sebuah maskapai penerbangan. Adam percaya bahwa keberhasilan perusahaan lebih banyak dipengaruhi oleh kuatnya budaya kerja. "Itu sebabnya saya pilih orang-orang terbaik dan punya tim business development yang solid," ujarnya.

Tim yang anggotanya 10 orang itu melakukan riset dan studi kelayakan, terutama berkaitan dengan pembukaan rute-rute potensial, menerapkan tradisi on time performance, dan memilih tipe pesawat.

Lain lagi cerita Estelita Hidayat, yang mencoba peruntungan di bidang konsultan bisnis dengan membawa bendera PT BIDS Global Consultant. Ia mengaku, beberapa klien membutuhkan waktu sebelum berkonsultasi dengan perusahaannya. "Bagi orang Indonesia, konsultan itu identik dengan lelaki tua dan botak," ucap perempuan muda berambut panjang ini. Banyak orang Indonesia belum terbiasa melakukan deal bisnis dengan anak muda.
Konsultan usia muda, tambah dia, dinilai belum berpengalaman.

Sementara itu, Eko merasakan bahwa masalah SDM dengan segala kreativitasnya masih menjadi kendala bagi bisnisnya . "Di bisnis PH, orangnya itu-itu saja," keluhnya. Ia melihat persaingan di bisnis PH (production house) makin sengit. Banyak pemain baru, tetapi pasokan SDM-nya masih minim. "Banyak yang muncul, banyak juga yang hancur," ujar Eko, yang merintis bisnis PH empat tahun silam.

Mereka yang hancur, kata Eko, adalah yang gagal mengelola SDM, manajemen, kreativitas, dan memelihara karyawannya. Akibatnya, perpindahan orang-orang kreatif dari satu PH ke PH lain kerap terjadi. Di sini, jurus sukses Eko dalam mempertahankan karyawan adalah dengan "memanusiakan" mereka. Slogan "minimal senyum, maksimal ketawa" menjadi andalan Eko untuk mendiferensiasi PH miliknya.

"Saya selalu berusaha agar program kami minimal bisa membuat orang tersenyum, syukur-syukur ketawa," kata Eko. Kini perusahaannya memiliki dua program andalan: Peri Gosip dan Gosip Apa Gosip. Sebentar lagi ia akan memunculkan reality show baru, Uang Greget dan Turis Dadakan.

Saran Rhenald, pengusaha muda sebaiknya tak memilih bisnis yang daur hidupnya pendek. Jangan berbisnis yang berbasis tren, seperti bisnis dotcom atau kafe. "Di Kemang, berapa sih yang untung? Kadang cuma laku tiga meja. Apa cukup buat menggaji karyawan?" kritik Rhenald. Ia menilai, pengusaha yang hanya ikut-ikutan tanpa bekal pengalaman dan pengetahuan di suatu bidang, sama dengan menggantang api.

Teddy Khairuddin, presdir PT Sealand Logistic, setuju dengan Rhenald. "Untuk jadi pengusaha, minimal harus menguasai 80% bidang yang akan digelutinya," kata Teddy. Lalu, apa yang harus dilakukan? "Berani mengambil risiko," tegas Rhenald. Kalau sekiranya bisnis itu tak bisa dipertahankan, cepat keluar. Jangan hanya karena emosi untuk membuktikan kehebatan, lalu melalaikan perhitungan bisnis.

Naomi, yang sudah menelan pahit getirnya dunia bisnis selama delapan tahun, merasakan bahwa kini ia tambah dewasa. Apabila ada bisnis barunya yang tidak berjalan sesuai rencana, ia tak segan-segan menutupnya dan tidak lagi menyalahkan diri sendiri. "Bisa saja pilihan lokasinya salah, sistemnya kurang bagus, atau saya tidak ahli di bidang itu," katanya.

Kalau gagal, itulah bisnis. Bisa untung, bisa buntung.

Sosok Moderator IYE!: Stevanus Billy



Untuk mengenal lebih dekat para Moderator IYE! maka, rubrik Sosok Moderator IYE! kali ini menampilkan sedikit cerita ttg salah satu Moderator IYE!, Stevanus Billy.

Siapa anggota IYE! Yang nggak pernah dengar nama Billy?!

Dialah yang paling rajin menyapa anggota baru IYE! satu persatu, sampai akhirnya dia sendiri kewalahan ketika buanyuak anggota IYE! masuk bersamaan, "wah...wah..gimana cara menyapanya..buanyuak banget he..3x," katanya sambil tertawa ketika jumlah anggota bertambah amat cepat.

Billy juga paling hafal nama-nama anggota milis, apa bisnisnya, bahkan berapa banyak anggota milis IYE! tersebut posting iklan :-) Dia juga yang paling telaten untuk menggerakkan aktifitas off air IYE!

Dia adalah moderator yang paling aktif di milist IYE! Pantaslah kalau 7 moderator lain sepakat menunjuk dia sebagai Managing Moderator IYE!

Guru martial art ini selalu bangun pagi-pagi dan mulai memoderatori IYE! adalah ritual paginya, "..kalau lupa memoderatori, banyak postingan yang pending...mailbox member jadi sepi..banyak yang protes nanti.. he..3x" katanya berseloroh.

“he..3x paling repot kalau nanganin posting iklan2 yang kurang simpati, yang satu email dikirim ke seluruh dunia, juga berulang-ulang.“ katanya, “bahkan ada yang sudah di “ban” e..masuk lagi dg nama lain tapi kelakuan sama he..3x, makanya saya usul agar dibuat satu hari khusus iklan, yaitu jumat, supaya tidak mengganggu member IYE! yang lain ”

Itulah suka duka sebagai Managing Moderator IYE! Kita perlu angkat dua jempol tinggi-tinggi untuk dedikasi Billy bagi IYE! masih muda dan pengusaha pula. Selain itu masih single, kalau masuk friendsternya...wah isinya banyak foto wanita-wanita cantik...he..3x .

Jangan lupa kita juga support aktifitas Billy sebagai moderator IYE!

Sunday, October 01, 2006

Sosok Moderator IYE!: Rene Suhardono Canoneo



Untuk mengenal lebih dekat para Moderator IYE! maka, rubrik Sosok Moderator IYE! kali ini menampilkan sedikit cerita ttg salah satu Moderator IYE!, Rene Suhardono yang diambil dr majalah SWA.

Kewirausahaan Rene’, dari Warung Gerobak ke Jaringan Kafe
Oleh : Yuyun Manopol SWA

Intuisi bisnis seorang eksekutif kantoran tak selamanya payah. Rene’ membuktikan lewat jaringan Kafe Dixie yang sudah berkembang biak menjadi 6 gerai.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, tapi Rene’ masih tampak serius berbincang-bincang dengan seorang rekan bisnisnya di Kafe Dixie yang berada di bilangan Kafe Tenda Semanggi (KTS). Sesekali ia mengajak rekan bisnisnya naik ke lantai dua di kafe itu untuk menunjukkan kondisi “warungnya” yang berkapasitas 250 meja. Pertemuan itu kabarnya dilakukan untuk membicarakan seputar pembukaan Kafe Dixie berikutnya di Soewarna Park, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Sebagai pemilik 6 gerai Kafe Dixie, apa yang dilakukan Rene’ Suhardono Canoneo tentu hal biasa. Namun hal ini menjadi unik jika menilik latar belakang Rene’ yang terhitung masih eksekutif di AMROP Hever, perusahaan yang membidangi jasa head hunter. Lalu, bagaimana ia mengatur kesibukannya sebagai eksekutif dan mengurusi bisnis sendiri.

Rupanya Rene’ mengaku tidak mengalami kesulitan. Yang penting, menurutnya, bagaimana membagi waktu dan disiplin tinggi. Memang diakuinya, di awal memulai usaha ia harus bekerja ekstra keras. Rene’ mengungkapkan sebelum meluncurkan Kafe Dixie ia mengawali usaha ini dari sebuah warung gerobak di Jl. Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 1998. ”Waktu itu kami menyewa tempat di pekarangan Restoran Bakery Nila Chandra senilai Rp 500 ribu per bulan. Namanya, Sambel Tomat,” ujar pria kelahiran Jakarta 8 Juli 1972 itu. Modalnya Rp 15 juta, yang diperoleh dari perkongsiannya dengan 9 kawannya di mana setiap orang diminta menyetor Rp 1 juta. Sisanya yang Rp 5 juta merupakan pinjaman dari pamannya.


Warung yang buka pukul 17.30 hingga 24.00 itu menawarkan sejumlah makanan Western, seperti steak, kentang goreng dan nasi goreng. ”Saya menyebut menu terakhir itu dengan sebutan MPA, ’menu putus asa’,” ujar Rene' berseloroh. Ia mengungkapkan keunggulan menu-menu yang ia tawarkan karena salah satu rekan bisnisnya adalah koki di hotel bintang lima di Jakarta. Namanya, Ragil Imam Wibowo (33 tahun). ”Ia sahabat saya sejak kecil,” ujar putra tunggal dari pasangan Rini Warsono (49 tahun) dan Vicente Canoneo (71 tahun) asal Filipina. Dan, Ragillah yang banyak berperan dalam membuat menu.

Rene' bercerita, ia bersama 9 rekannya bergiliran menjalankan usaha itu sepulang dari kerja. Karyawannya pun hanya dua orang. ”Jadi praktis kami semua nyambi dan pasti lelah sekali,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini. Masih cerita Rene', saat itu tiap bulan kinerja warungnya naik-turun. Kadang untung Rp 50 ribu, sesekali Rp 500 ribu, tapi tak jarang malah mengalami minus. Rasa lelah yang amat sangat dan keuntungan yang biasa-biasa saja membuat perkongsian ke-10 orang ini tak bertahan lama. Persis hanya satu tahun mereka ber-10 bersama, selanjutnya yang tersisa hanya tiga orang. Mereka adalah Rene’ yang mengurusi bagian manajemen, Ragil di bagian menu/dapur dan Rico Kasmanda (33 tahun) di bagian keuangan. ”Kami bertahan, karena kami memiliki mimpi yang sama yaitu sesuatu yang lebih baik,” katanya.

Pada 1999, Restoran Bakery Nila Chandra ditutup. Karena tempat ini belakangan dijual kepada Bakmi Permata, akhirnya Sambel Tomat pun terpaksa ditutup. Untungnya, dalam waktu bersamaan, Rene’ dkk. mendapat tawaran untuk membuka gerai di kawasan KTS. ”Kami beruntung mendapat kesempatan untuk buka di sana,” ujarnya. Modalnya Rp 150 juta. Dana ini berasal dari kantong mereka bertiga ditambah pinjaman keluarga dan teman, serta menggadaikan mobil dan emas milik Rene’.

Pengumpulan dana di KTS merupakan kenangan yang tak terlupakan bagi Rene’. Saat itu ia mengeluarkan seluruh uang tabungannya, emas yang ia miliki pun dilego. Bahkan mobilnya pun ia ”sekolahkan” -- kata lain digadaikan menurut istilah Rene'. ”Saat itu saya habis-habisan. Sehingga untuk saya sendiri saya hanya mengandalkan uang gaji,” ia berujar. Rene' menjelaskan bahwa ia bukan berasal dari keluarga yang berlebihan.

Untuk memantapkan kehadirannya di KTS, Rene’ dkk. mencoba tampil dengan baju baru yaitu dalam bentuk kafe yang bernama Kafe Dixie. Tak ada arti yang khusus dari nama itu, kecuali terasa enak dilihat dan didengar sehingga mudah diingat. Selain itu, kata dixie adalah pelesetan dari kalimat, ”Sedixie-sedixie menjadi bukit, dan dix sini senang dix sana senang,” ujar Rene’ sambil tertawa menirukan lirik sebuah lagu anak-anak.

Pengorbanan Rene’ dkk. tak sia-sia. Tujuh bulan setelah buka, kafe yang memiliki luas sekitar 12 x 8 meter, 120 kursi dan 20 karyawan ini langsung break even point. Keberhasilan ini makin membulatkan tekad Rene’ dkk. untuk semakin serius menjalankan Kafe Dixie. Tak heran, satu tahun kemudian (2000) Kafe Dixie hadir di Lippo Sudirman. Belakangan pada 2004, karena ada sedikit persoalan dengan pihak pengelola gedung, kafe ini ditutup.

Ketika bisnis Kafe Dixie kian meningkat, kesibukan Rene’ di jalur karier pun meningkat. Pada 2001 Rene’ keluar dari AMROP Hever dan bergabung dengan BPPN. Namun, semangat Rene’ tak luntur untuk terus mengembangkan Kafe Dixie. Pada 2002, konstruksi bangunan Kafe Dixie di KTS dirombak total dari kayu menjadi baja. Setelah itu pada 2003, ia bersama Ragil dan Rico memantapkan usahanya dengan mendirikan PT yang menaungi Kafe Dixie, yaitu: Trirekan Rasa Utama (TRU) yang kini berkantor pusat di Jl. Antasari, Cilandak Barat, Jak-Sel.

Dengan kehadiran TRU, Rene’ dkk. kian mantap melangkah. Hal ini terlihat dengan peluncuran Kafe Dixie di Jl. Kemang Raya (seluas 150 m2) dan Citos (80 m2) pada tahun yang sama (2003). Hal ini berlanjut pada 2004, dengan hadirnya Kafe Dixie di Taman Rasuna Said, Kuningan (30 m2) dan di Benton Junction Lippo Karawaci, Tangerang (180 m2).

Bahkan pada 2005, ia meluncurkan Kafe Dixie di Jl. Gejayan, Yogyakarta dengan luas 1.200 m2. Kehadiran Kafe Dixie ini merupakan ekspansi Rene’ dkk. yang pertama kali di luar Jakarta. Namun tak puas dengan sukses di Kafe Dixie, pada 2005 Rene’ dkk. memperkenalkan produk barunya yang bernama Mahi-Mahi di Jl. Antasari. Sebuah restoran yang khusus menyajikan hidangan laut (seafood) dengan cara memilih sendiri ikan yang diinginkan.

Keberhasilan Rene’ dkk. ternyata punya kiat sendiri. Diceritakan Rene', untuk berhasil dalam bisnis ini diperlukan kedisiplinan dalam pengkajian lokasi. Lalu, efisiensi dan pengembangan menu-menu. Ia mengungkapkan, persoalan efisiensi selalu menjadi perhatiannya. Contohnya dalam hal rekrutmen karyawan. Jika bisa dikerjakan 8 orang kenapa harus 11 orang. Begitu juga penggunaan peralatan. Jika bisa memakai kompor gas yang biasa, kenapa harus memakai kompor gas yang mahal.

Kemudian dari sisi menu. ”Kami selalu mengembangkan menu yang cocok dengan selera sekitarnya,” ujar Rene’. Itulah sebabnya, bisa saja terjadi satu gerai ada beberapa menu yang berbeda dari gerai yang lain. Saat ini Kafe Dixie memiliki 40-50 menu. Antara lain: steak, spageti, kentang goreng, jus dan masih banyak lagi.

Wasirin, Kepala Koki untuk wilayah Jakarta mengungkapkan menu favorit pengunjung Kafe Dixie adalah beef steak, spicy ribs (Rp 49 ribu per porsi), dan chicken hainan dixie style (Rp 29 ribu per porsi). Sebutlah, spicy ribs. Wasirin menyebutnya menu ini dengan kata yang sederhana, iga sapi balado. ”Saya pikir saat ini jarang sekali yang bisa menyediakan menu semacam ini,” ujarnya bangga. Kemudian, chicken hainan dixie style. Diungkapkannya, menu ini tergolong unik. Karena penampilannya dengan warna hijau, padahal umumnya menu semacam ini tampil dengan warna kekuningan.

Steak di Kafe Dixie disajikan dengan dua paduan menu. Menu ini memiliki 8 pilihan yang bisa dipilih sesuai dengan selera pengunjung. Contohnya, steak yang dipadukan dengan menu sauted mixed vegetable dan french fries, atau assorted sauted mushroom dan butter rice. Hal ini juga berlaku pada saus. Kafe Dixie menyediakan pilihan saus BBQ, spicy, teriyaki, pepper dan mushroom.

Dilihat dari sisi harga, saat ini harga yang termahal adalah sirloin steak (US meat) yang harganya mencapai Rp 62 ribu/porsi. Adapun makanan yang paling murah adalah cheese springroll yang harganya Rp 12 ribu/porsi, sedangkan minuman di kisaran Rp 7-8 ribu per gelas.

Sekarang Rene’ sudah merasa puas dengan hasil yang dicapai oleh kafe-kafe miliknya. Setidaknya, menu-menu yang disajikan di Kafe Dixie ternyata memiliki sejumlah penggemar tetap dan terkenal pula. Sebutlah Anjasmara, Agnes Monica, Leoni dan artis-artis AFI 1-4. Mereka terlihat sering berkunjung ke Kafe Dixie di KTS. Fahrul, karyawan bagian servis Kafe Dixie di KTS mengungkapkan rata-rata tiap hari pengunjung yang datang mencapai 100 orang, sedangkan di akhir pekan (Jumat dan Sabtu) pengunjung meningkat sampai dua kali lipat.

Dan Rene’ pun mengaku makin menguasai dari sisi permodalan, yakni dengan membangun mitra-mitra investor. Menurutnya, mitra investor inilah yang menjadi rahasia keberhasilan bisnis yang digelutinya. Dijelaskannya, tiap gerai Kafe Dixie kerap memiliki investor yang berbeda-beda, tapi dari sisi operasional sepenuhnya dijalankan manajemen TRU.

Lynda Ibrahim, salah seorang investor Kafe Dixie mengungkapkan ia pertama kali bermitra dengan Rene’ di Kafe Dixie tahun 1999, tapi secara formal baru pada 2002 di cabang KTS. Investasi ini kemudian ia lanjutkan dengan peluncuran Kafe Dixie di Benton Junction, Lippo Sudirman dan Lippo Karawaci, Tangerang.

Manajer senior merek sebuah perusahaan multinasional yang membidangi fast moving consumer goods ini menceritakan tertarik berinvestasi di sini karena prospek bisnisnya bagus. ”Selain konsepnya jelas, mereka mengejar niche market yang cukup besar yaitu anak muda dan keluarga,” ujar wanita keturunan Aceh dan Jawa ini. Ia menambahkan, dari sisi kinerja Kafe Dixie termasuk baik. ”Memang ada naik-turunnya, tapi trennya terus naik,” ujarnya.

Alasan yang lain, karena sosok yang menjalankan Kafe Dixie. ”Mereka mengerti bisnis dan saya tahu betul integritas Rene’. Ia orangnya jujur dan sungguh-sungguh,” ucap wanita yang mengenal Rene’ lebih dari 10 tahun sebagai sepupu dari sahabatnya sendiri itu.

Tak seperti Kafe Dixie, kini Mahi-Mahi dikembangkan dengan cara waralaba. Rene’ menjelaskan saat ini perusahaannya sedang mencari mitra bisnis yang cocok untuk kehadiran Mahi-Mahi di sejumlah wilayah di Jakarta seperti di Bintaro, BSD, Depok dan Cibubur. Sementara untuk Kafe Dixie, Rene’ berencana tahun depan membuka cabang di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, Soewarna Park di Bandara Soekarno-Hatta, dan Surabaya. Tahun 2007 pihaknya siap pula membuka cabang di Semarang.

Special Report: Asia's Best Entrepreneurs Under 25

Business Week
By Brian Bremner

Asia's Young Entrepreneurs

They come from lands ranging from dirt poor to First World. But nothing could cool the raging work ethic and ambition of these startup stars

Led by China and India, Asia's superfast economies have dazzled observers for the last decade. But until recently the defining feature of most of them was corporate bigness.

In Japan and South Korea respectively, the traditional dominance of the keiretsu, or business alliances, and chaebol, or industrial conglomerates, made it difficult for entrepreneurs to find a place. China's state-owned enterprises siphoned off most of the available credit from, well, state-owned banks. In India there was more opportunity, but precious few had the financial wherewithal to attract bank financing and startup capital.

Now, however, Asia is the scene of a broad flowering of startup activity—as evidenced by our special report on Asia's young class of entrepreneurs. This new generation is globally aware, extremely Internet savvy, and willing to pounce on a smart idea even if it means grueling hours and considerable financial risk early on in life. Their stories may surprise you.

TEENAGE TITANS? For the past month or so, BusinessWeek.com has set out to find Asia's most interesting examples of this new breed. We asked readers to nominate standout young entrepreneurs 25 or under, and we narrowed down the impressive list to a group of finalists. You can flip through a slide show showcasing their companies and entrepreneurial vision, then cast your vote on the last page of the show. We'll report the results in September.

Anyone doubting the disruptive, game-changing power of the Internet, mobile software applications, and other digital technologies—which allow a go-getter with a smart idea to hit the marketplace quickly—should take a serious look at our candidates. Young folks barely out of college are running serious enterprises they started with a modicum of capital. Some of our nominees were trying out business models before graduating from high school.

Divyank Turakhia, co-founder and director of Bombay-based Directi Group, was doing Internet consulting at age 14 before launching his domain-name registration and site-building company two years later with $600 he borrowed from his parents. At 24, he runs a profitable company with more than 250 employees and clients around the world.

OFF-LINE DREAMS. In Pakistan, Arif Ayub, 23, is the founder and CEO of Softflux, which started out as a one-man shop back in 2000. Today the Karachi IT solutions firm offers everything from Web development services to management consulting for Pakistani banks and drug companies—to help them boost their profitability and the productivity of their mobile networks. The company has roughly 70 employees and development associates in Beijing, Dublin, Romania, London, and Silicon Valley.

Even in less tech-driven economies, the Net is opening up doors to some bright young talent. Nguyen Minh Hieu, 25, wants nothing less than to create the best Internet company in Vietnam with DreamViet. The company's flagship product is an e-commerce research and technology guide Web site (aha.com.vn) for consumer electronics. DreamViet also provides Web site development advice and services for Vietnamese merchants.

Not all the startup activity is happening in cyberspace. Victor Lang, 22, a senior partner and co-founder of Global Future Educational Consulting, basically wants to change the world. His company provides educational materials for those interested in learning about international conflict resolution and diplomacy. It creates simulated U.N. confabs where students role-play as ambassadors.

MEAN STREETS. Ario Pratomo in Jakarta runs his own logistics company that sells cargo space for a unit of Etihad Airways, the Abu Dhabi airline. Fellow Indonesian Hendy Setiono runs a fast-growing chain of kebab sandwich shops with 65-odd outlets.

Our special report also features some remarkable tales of gritty determination in the face of adversity. Take Kentaro Iemoto, founder and CEO of Clara Online, which leases out Linux-based servers and other IT services to corporate clients in Japan. At age 14 he was diagnosed with a brain tumor, underwent surgery, spent several years in a wheelchair—and went on to become one of the hottest young talents in Japanese technology.

When David Lee was a 7-year-old growing up in the tougher streets of Hong Kong, he sold oranges to help out with the family's then-stretched finances. As chairman and co-founder of Team & Concepts, he now runs an IT service company that provides online applications for event planners. His latest product: a Beta service where users can upload and host a spreadsheet on the Web and share it with colleagues and friends.

All these young folks share an unbridled enthusiasm and a fierce desire to succeed. Will all of them make it? Maybe not. Yet this much is clear: Asia's already dynamic future has turned a little bit brighter with the arrival of this bunch.

Click here for the slide show

Hendy Setiono; Asia's top young entrepreneurs


Hendy Setiono
Founder: Baba Rafi Indonesia
www.babarafi.com

Jakarta, IndonesiaAge: 23Baba Rafi Indonesia founder Setiono is a 23-year-old in a hurry. Back in 2003 he launched the Kebab Turki Baba Rafi fast-food chain, and it now has 65 outlets across 10 cities in Indonesia. Its kebab sandwiches, as well as chicken and beef burgers, are sold in a variety of restaurant formats from portable booths to shopping center outlets. His company is also branching out to franchise business consulting. Setiono is the recipient of the Indonesia Small Medium Business Entrepreneur Award (2006) sponsored by the government.

Read the story

Asia's top young entrepreneurs

One of the key factors in a country's economic success is how conducive the overall environment is to entrepreneurship. This includes the regulatory, financial (credit availability), and social environments that influence how many entrepreneurs are created, and how many of them are successful.

One of the most heartening things that has happened in the past few years, not just in India, but other Asian countries, has been the number of young entrepreneurs coming
up.Businessweek.com recently selected 20 of these young capitalists as part of a special report and has a competition going where you can login and vote for your favorite candidate, who will win the best Asian entrepreneur of the year award. Here are my favorites (disclaimer: I have a bias against scions of business houses) :

Arif Ayub, Softflux, Pakistan. Offers all sorts of software development, management consultancy and then some, with 70 employees and targeted revenues of $120 million by end of the decade. Ooh boy. The dude also has a private equity fund Saltflow!

Sasikanth Chemalamudi, Habits, India. Is a creative learning company, and is also involved with projects in rural India to promote self-employment. Probably the only chap on the list with a strong social entreprenuerial streak.

Mao Kankan, Majoy Entertainment, China. Tthis guy takes online gaming to a whole new level. Players actually play from the same physical location, and games involve players shooting each other with infra-red pistols. Bring it on, I say!

Kentaro Iemoto, Clara Online, Japan. This guy is simply amazing. Battles and survives brain tumor at 14, launches his company at 16, and now manages six data centers.

Victor Lang, Global Futures, HK and Chicago. This is one of the most unique ideas I have come across. Provides educational material for those interested in learning about international conflict resolutions and diplomacy. They also host simulated UN conferences!

Hendy Setiono, Baba Rafi, Indonesia. I am a foodie, so this choice is now biased. This guy runs a chain of fast food outlets from portable booths to shopping center outlets. The biggest disappointment is that there are no women in the list. They could easily have found a number of women with great ideas, and who are possibly already more successful than the 20 on the list. The other downside is that a majority of the entrepreneurs are in the ICT space, with four of them offering solutions in the mobile phone space.

http://iye.wiloto.com

http://iye.wiloto.com
IYE! Indonesia Young Entrepreneurship is a corporate social responsibility activity of Wiloto Corp. Indonesia Young Entrepreneurship adalah ajang komunikasi bagi kawula muda Indonesia yang berjiwa Entrepreneur

Indonesia-Young-Entrepreneurship at Yahoo! Groups

Christovita Wiloto & Co. - PowerPR

IYE! Small Business

IYE! Managing Business

IYE! Young Entrepreneur News

IYE! Entrepreneurship News

IYE! Innovation & Design

IYE! Indonesia Business News

IYE! Business Online

IYE! Strategic Indonesia

IYE! Asia Hot Business

IYE! Europe Hot Business

Reuters: Business News